Guru Besar UPI: Pengembangan Sektor Telekomunikasi Prospeknya Bagus

Inang Jalaludin Shofihara
Kompas.com - Rabu, 9 Juni 2021
Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Telekomunikasi  Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Enjang Akhmad Juanda, M.Pd., MT.DOK. Humas UPI Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Telekomunikasi Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Enjang Akhmad Juanda, M.Pd., MT.

KOMPAS.com – Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Telekomunikasi Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Enjang Akhmad Juanda, M.Pd., MT menjelaskan manfaat teknologi telekomunikasi terhadap pembangunan ekonomi negara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2020), pertumbuhan sektor telekomunikasi pada kuartal 2 tahun 2020 di masa pandemi sebesar 10,88 persen. Angka ini lebih besar dibandingkan pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Padahal, pandemi Covid-19 sering kali disebut-sebut membayangi faktor daya beli masyarakat karena kelumpuhan ekonomi sektor lain.

“Intinya, mengembangkan sektor telekomunikasi, baik layanan perangkat lunaknya, maupun layanan perangkat kerasnya, tidak akan merugi. Dengan perkataan lain, prospeknya bagus,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (9/6/2021).

Enjang menerangkan, kontribusi teknologi informasi dan komunikasi ( TIK) dalam pertumbuhan ekonomi dapat digolongkan ke dalam dua kriteria, yaitu produksi perangkat TIK dan jasa, serta penggunaan TIK secara efektif.

Baca juga: Guru Besar UPI Ini Paparkan Model Komunikasi Efektif Agar Anak Berpikir Kreatif

Mengutip Lilian (2006), negara-negara maju sudah memanfaatkan peluang aset telekomunikasi lebih beragam, mulai dari jual-beli pemanfaatan ruangnya, spektrum atau bandwidth-nya, hingga membuat perangkat-perangkat keras (hardware) dan lunak (software).

“Kita bangsa Indonesia di mana? Indonesia baru dominan memanfaatkan aset ruang atau bandwidth-nya dan aspek low technology yang menonjol, belum ke produksi perangkat keras dan lunak dengan teknologi tinggi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) juga telah mencanangkan Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045 (Edisi 28 Februari 2017) untuk menggalakkan pembangunan industri telekomunikasi.

Rencana ini dilandasi fakta bahwa kemajuan TIK dalam dua dekade terakhir berkembang sangat pesat, sehingga mampu meningkatkan kinerja dengan cepat, tepat dan akurat, serta memberikan peluang pengembangan berbagai kegiatan baru berbasis pada teknologi ini.

“Diakui juga bahwa implementasi TIK di negara industri maju telah ditempatkan sebagai penggerak utama dalam pembangunan perekonomian,” lanjut Enjang.

Baca juga: Mengenal Prodi Teknik Telekomunikasi dan Prospek Kerjanya

Dia menilai, teknologi telekomunikasi memiliki aspek kerumitan, kecanggihan, sekaligus kecantikan yang nilai kebermanfaatannya sangat tinggi.

“Dapat dibayangkan smart television, gawai yang canggih dan cantik dan lainnya. Oleh karena itu aspek bisnisnya juga sangat menjanjikan karena juga menjadi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Enjang menambahkan, kesimpulan causality test Garnger-Sims dengan data 50 years' time series AS, Beil (at el, 2005) membuktikan, ada hubungan kausalitas antara investasi telekomunikasi dengan pertumbuhan ekonomi (Sharif (2017).

Pendapat serupa diutarakan Shiu and Lam (2007) yang berdasarkan studi ekstensifnya terhadap data 105 negara. Mereka berargumentasi, perkembangan telekomunikasi secara signifikan berkorelasi kuat dengan perkembangan/pertumbuhan ekonomi.

Oleh karenanya, Enjang menegaskan teknologi telekomunikasi adalah bidang kajian dan kegiatan atau aktivitas yang lucrative (menguntungkan).

Kemudian, untuk pengembangan bisnisnya di Indonesia dapat dimulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) tenaga ahli mulai rentang sederhana hingga high skill and knowledge technology serta praktisinya.

Baca juga: Guru Besar UPI: Perguruan Tinggi Harus Berani Ubah Pendidikan Kewirausahaan Jadi Digitalpreneur

Kemudian, dikembangkan pula sarana dan prasarana pengembangan, baik dalam hal riset maupun pabrikasi, alokasi biaya pengembangan, aspek tekad politik (political will), dan cetak biru (blue print).

Hal tersebut perlu menjadi perhatian karena sektor telekomunikasi telah berkembang cepat hingga dekade ini. Perkembangannya pun tidak hanya pada teknologinya, tetapi juga dalam hal organisasi dan regulasi industrinya (Matheson and Petit, 2017).

Sektor tersebut pada umumnya natural monopoly, industri dengan fixed costs, tingkat pengembalian modal bertambah dan biaya layanan rata-rata. 

Namun biaya tersebut menurun seiring permintaan yang bertambah (karena keuntungannya).

Sebagai contoh, kebanyakan keuntungan finansial operator selular relatif tinggi. Ini dibuktikan pengembalian rata-rata nilai aset dari perusahaan-perusahaan layanan telekomunikasi besar Amerika Serikat (AS) melebihi perusahaan-perusahaan modal besar pada umumnya hingga 70 persen sejak 2009.

Selain itu, return on investment (ROI) dan return on equity (ROE) perusahaan telekomunikasi masing-masing mencapai 16 persen dan 15 persen lebih tinggi dari pasar.

Baca juga: Atasi Jenuh Kuliah Daring, UPI Inovasi Tatap Muka Moda Broadcasting

Penelitian Boniecki dan lainnya (2016) yang menganalisa pasar-pasar telekomunikasi di Timur Tengan dan Afrika menemukan bahwa pertumbuhan sektor ini tergantung market share.

Ini berarti, operator-operator yang dominan mempunyai rasio earning sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan angsuran utang terhadap total revenue 41-47 persen.

Sementara itu, operator terbesar kedua nilainya mencapai 30-37 persen dan operator terbesar ketiga dan keempat hanya 15-25 persen.

Perkembangan teknologi komunikasi

Lebih lanjut, Enjang menjelaskan perkembangan teknologi komunikasi.

Menurutnya, dewasa ini orang sudah bisa mengirim dan menerima pesan atau berita sudah kombinasi tulisan, suara, gambar, video seadanya hingga video yang dianimasi 3D.

“Bahkan, teknologi ini dapat pula memperlihatkan makrokosmos maupun mikrokosmosnya. Bisa dipermudah (made easy) maupun diperumit/dibuat canggih (made complex),” terangnya.

Dia merangkum sejarah perkembangan teknologi telokuminkasi dapat dilacak mulai tahun 1864 ketika James C Maxwell membahas hubungan medan magnet.

Hubungan tersebut tidak hanya merangkum temuan riset Laplace, Poisson, Faraday, Gauss dan yang lainnya, tetapi juga memprediksi propagasi atau penjalaran sinyal listrik lewat ruang (space).

Baca juga: Perkembangan Teknologi Komunikasi

Kemudian, perkembangan berlanjut ketika seorang Amerika Lee De Forest menemukan tabung trioda (audion), yaitu komponen elektronik yang membuat radio berukuran lebih kecil dan praktis sehingga dijuluki "the father of radio".

Pada 1947, John Bardeen menemukan transistor yang dilanjutkan Walter Brattain (1902–1987), dan William Shockley (1910–1989) dari Bell Labs. Alat ini memungkinkan menguatkan sinyal radio dengan rangkaian yang lebih padu (compact).

Pada 1954, radio transistor pertama kali diproduksi. Sekitar 1.500 radio terjual tahun pertama dan pada pengujung 1955, penjualan radio mencapai 100,000 buah.

“Dewasa ini, teknologi analog (seperti radio) telah hampir total digeser teknologi digital karena lebih banyak keuntungannya,” lanjut Enjang.

Ini karena network capacity pada teknologi analog masih sempit atau kecil, sedangkan pada digital dengan teknologi multiplekser, memungkinkan jauh lebih banyak share kanal dan mencapai efisiensi dan efektifitas yang tinggi.

Baca juga: Tinggi, Daya Serap India untuk Produk Teknologi Komunikasi

Kini, perkembangan terakhir teknologi telekomunikasi masih pada Generasi 4 (4G) dan Generasi 5 (5G) yang ditandai uji coba pemakaian everywhere broadband, everything to be linked, faster streaming signal dan lainya lain-lain di beberapa belahan negara.

Atribut 4G adalah ubiquitous, mobile, dan broadband. Sedangkan 5G, atributnya ditandai pita lebar yang massif (xMBB) yang mengantarkan (data) bandwidth ukuran gigabyte-an.

Kemudian, 5G juga memiliki komunikasi tipe mesin yang masif (mMTC) yang menghubungkan biliunan sensor dan mesin.

Atribut lainnya adalah komunikasi tipe mesin yang kritis/genting (uMTC) yang memungkinkan umpan balik segera dengan reliabilitas tinggi dan dapat melakukan misalnya mengendalikan lewat robot dan kendaraan mandiri (autonomous).

“5G juga yang terhubung (berkomunikasi) bukan hanya manusia dengan manusia, tapi juga manusia dengan mesin dan mesin dengan mesin, seiring akan booming nya internet of things (IoT),” jelasnya.

Baca juga: Guru Besar UPI Jelaskan Peran Kebijakan dan Olahraga dalam Pembangunan

Jika diringkas, perkembangan teknologi analog ke digital mengikuti meningkatnya kebutuhan dan pemenuhan akan komunikasi yang fleksibel dan mobile. Oleh karenanya lahirlah ponsel (telepon genggam).

Hal ini dapat dilihat dari data BPS tentang peningkatan kepemilikan ponsel di Indonesia. Sejak 2015 hingga 2019, kepemilikan meningkat dari 41,98 persen menjadi 73,75 persen dari penduduk Indonesia.

Selain itu, akses terhadap internet juga meningkat dari 21,98 persen menjadi 47,69 persen dari penduduk Indonesia.

Menurut Statistik Telekomunikasi Indonesia (2019), Indonesia menduduki jumlah penduduk terbanyak ke empat dunia (2015), 255.993.674 jiwa, sebagai pengguna internet ke delapan, yaitu 78 juta (30,5 persen) dari jumlah penduduk Indonesia.

Hal ini juga semakin menasbihkan betapa potensialnya pengguna dan pengembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia.

Baca juga: Guru Besar UPI Tegaskan Mahasiswa Perlu Hijrah dari Job Seeker ke Job Creator

PenulisInang Jalaludin Shofihara
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
Tingkatkan Capaian Guru Besar, Rektor UPI: Setiap Dosen Punya Kesempatan
Tingkatkan Capaian Guru Besar, Rektor UPI: Setiap Dosen Punya Kesempatan
Univ Pendidikan Indonesia
Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Layanan BK, Guru Besar UPI Rekomendasikan 2 Hal
Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Layanan BK, Guru Besar UPI Rekomendasikan 2 Hal
Univ Pendidikan Indonesia
Guru Besar UPI Ini Paparkan Model Komunikasi Efektif agar Anak Berpikir Kreatif
Guru Besar UPI Ini Paparkan Model Komunikasi Efektif agar Anak Berpikir Kreatif
Univ Pendidikan Indonesia
Guru Besar UPI Tegaskan Mahasiswa Perlu Hijrah dari Job Seeker ke Job Creator
Guru Besar UPI Tegaskan Mahasiswa Perlu Hijrah dari Job Seeker ke Job Creator
Univ Pendidikan Indonesia
Guru Besar UPI Jelaskan Peran Kebijakan dan Olahraga dalam Pembangunan
Guru Besar UPI Jelaskan Peran Kebijakan dan Olahraga dalam Pembangunan
Univ Pendidikan Indonesia
Kajian Linguistik Forensik Bantu Kawal Demokratisasi di Ruang Digital
Kajian Linguistik Forensik Bantu Kawal Demokratisasi di Ruang Digital
Univ Pendidikan Indonesia
Guru Besar UPI: Perguruan Tinggi Harus Berani Ubah Pendidikan Kewirausahaan Jadi Digitalpreneur
Guru Besar UPI: Perguruan Tinggi Harus Berani Ubah Pendidikan Kewirausahaan Jadi Digitalpreneur
Univ Pendidikan Indonesia
Meningkat Pesat, Peserta UTBK SBMPTN 2021 di UPI Naik 94,39 Persen
Meningkat Pesat, Peserta UTBK SBMPTN 2021 di UPI Naik 94,39 Persen
Univ Pendidikan Indonesia
Soal Peta Jalan Pendidikan Indonesia, Rektor UPI: Sangat Urgen, tapi Harus Komprehensif
Soal Peta Jalan Pendidikan Indonesia, Rektor UPI: Sangat Urgen, tapi Harus Komprehensif
Univ Pendidikan Indonesia
Pembelajaran Berkualitas Dibutuhkan untuk Bangun Kompetensi dan Keterampilan Abad 21
Pembelajaran Berkualitas Dibutuhkan untuk Bangun Kompetensi dan Keterampilan Abad 21
Univ Pendidikan Indonesia
Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini dengan Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Univ Pendidikan Indonesia
Dies Natalis UPI ke-66 : UPI Lebih Berprestasi dan Berinovasi di Masa Pandemi
Dies Natalis UPI ke-66 : UPI Lebih Berprestasi dan Berinovasi di Masa Pandemi
Univ Pendidikan Indonesia
Wisudawan UPI Gelombang III 2020 Diminta Berkontribusi pada Pendidikan Bangsa
Wisudawan UPI Gelombang III 2020 Diminta Berkontribusi pada Pendidikan Bangsa
Univ Pendidikan Indonesia
Sumbang Pemikiran untuk Pembangunan Pendidikan Indonesia, UPI Kukuhkan 8 Guru Besar
Sumbang Pemikiran untuk Pembangunan Pendidikan Indonesia, UPI Kukuhkan 8 Guru Besar
Univ Pendidikan Indonesia