Pentingnya Penerapan Positive Parenting, Bantu Orangtua Didik Anak Jadi Lebih Baik

Inang Jalaludin Shofihara
Kompas.com - Kamis, 22 Desember 2022
Ilustrasi orangtua sedang bermain dengan anaknya.DOK. Tanoto Foundation Ilustrasi orangtua sedang bermain dengan anaknya.

KOMPAS.com – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) dalam siaran pers yang dirilis pada Mei 2019 menyatakan, sebanyak 75 persen orangtua di Indonesia tidak berupaya meningkatkan kapasitas diri dalam pengasuhan.

Hal itu berdampak pada ketidakmampuan orangtua dalam mengasuh dan melindungi anak yang berakibat negatif terhadap tumbuh kembang anak, seperti adanya kekerasan fisik, mental, seksual, dan penelantaran.

SIGAP Program Manager dari Tanoto Foundation Irwan Gunawan mengatakan, banyak dari masyarakat indonesia yang tidak dibekali dengan pendidikan mengasuh, mendampingi, dan membesarkan anak yang baik.

“Kita tidak disiapkan menjadi orangtua yang ‘ideal’, tapi hanya mencontoh berdasarkan pengalaman yang kita alami. Namun, tuntutan zaman lebih dari itu,” ujarnya saat wawancara bersama Kompas.com, Kamis (15/1/2022).

Irwan menyebutkan, minimnya upaya peningkatan kemampuan pengasuhan bisa berdampak panjang, salah satunya adalah tidak adanya perubahan generasi yang lebih baik.

Baca juga: 5 Pola Asuh Orangtua yang Bikin Mental Anak Jadi Strawberry Generation

Dia mencontohkan, dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, salah satu yang dibutuhkan adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berkualitas, dan memiliki karakter.

“Kalau orangtua tidak membekali anak-anaknya dengan pola pengasuhan yang baik, mungkin mereka tidak akan siap menghadapi atau bersaing dengan tuntutan zaman ke depan,” jelasnya.

Oleh karenanya, Irwan mengatakan, orangtua perlu meningkatkan kapasitas diri dalam pengasuhan, salah satunya dengan menerapkan pola pengasuhan positif atau positive parenting.

Dia mengatakan, positive parenting merupakan pola pengasuhan yang cukup efektif dalam menghindari kekerasan dalam rumah tangga, baik untuk orangtua maupun anak.

Pola pengasuhan tersebut mengajak para orangtua untuk mendisiplinkan anaknya melalui penerapan metode bertanya.

Baca juga: 3 Jenis Pola Asuh Orangtua dan 9 Strategi Pengasuhan Positif Pada Anak

Fasilitator Rumah Anak SIGAP Pasirjaksa, Pandeglang, Ade menambahkan, positive parenting dilakukan dengan mengajak orangtua menjadi role model bagi anak.

“Kemudian, orangtua memberikan reward kepada anak-anak ketika melakukan sesuatu yang baik dengan memuji, memeluk, mencium, atau sebagainya,” katanya kepada Kompas.com, Jumat (16/12/2022).

Positive parenting dapat membantu anak mencapai perkembangannya secara optimal, seperti bahasa, kognitif, fisik, sosial, emosional, hingga moral.

Pola pengasuhan ini ditujukan kepada anak usia nol sampai tiga tahun karena lebih dari itu stimulasi sudah tidak bisa dilakukan.

Ade menjelaskan, contoh positive parenting yang bisa dilakukan orangtua di rumah, yakni mengajak anak terlibat ketika memasak dengan membantu mengambilkan piring atau sesuai dengan kemampuan anak.

Ketika anak melakukan kesalahan, kata dia, orangtua tidak boleh menggunakan kata “jangan” atau “tidak” serta lebih proaktif dengan menjelaskan kesalahannya.

Baca juga: Hati-hati, Pola Asuh yang Salah Bisa Akibatkan Anak Stunting

“Misalnya anak berlari-lari, orangtua tidak seharusnya mengatakan, ‘Jangan lari’, tetapi lebih menjelaskan, ‘Adik, hati-hati kalau berlari’,” terangnya.

Penerapan positive parenting di Rumah Anak SIGAP

Lebih lanjut, Ade mengatakan, layanan Rumah Anak SIGAP turut memberikan edukasi tentang pola pengasuhan yang baik.

Rumah Anak SIGAP memiliki kurikulum yang mengusung lima komponen, yakni kesehatan dan keselamatan ibu dan anak, pengasuhan responsif, nutrisi dan gizi anak dan ibu hamil, keamanan dan keselamatan, serta peluang belajar untuk anak.

Program ini merupakan bagian Siapkan Generasi Anak Berprestasi (SIGAP) yang menjadi salah satu bentuk kemitraan antara Tanoto Foundation dengan pemerintah daerah.

Rumah Anak SIGAP didirikan dengan mengembangkan model layanan yang bertujuan membekali keluarga agar mampu memberikan pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang optimal anak usia 0-3 tahun secara menyeluruh (holistik) yang terintegrasi dengan layanan kebutuhan esensial anak lainnya.

Baca juga: Pentingnya Pola Asuh Responsif bagi Anak, Orangtua Wajib Tahu

Ade mencontohkan, untuk komponen kesehatan dan keselamatan ibu dan anak, pihaknya memberikan pemahaman kepada orangtua tentang kesehatan anak yang perlu ditingkatkan, baik dari gizi, pertumbuhan, dan perkembangannya.

“Adapun pengasuhan responsif adalah bonding. Kami memberikan pemahaman yang baik dan benar tentang kelekatan orangtua dan anak dalam kesehariannya, termasuk juga menstimulasi tumbuh kembang,” jelasnya.

Kemudian, Rumah Anak SIGAP juga memberikan pemahaman tentang keamanan bagi anak, seperti menghindarkan anak dari kontaminasi asap rokok atau polusi, hingga menerapkan indikator pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Kemudian ada juga keamanan untuk biologisnya, misalnya ‘sentuhan mana, nih, yang tidak boleh dilakukan orang lain kepada anak kecuali dirinya sendiri’. Itu kami beritahukan kepada orangtua,” jelasnya.

Rumah Anak SIGAP juga melayani interaksi kelompok dan individual. Untuk interaksi kelompok, Rumah Anak SIGAP menyediakan fasilitas Kelompok Bermain Bersama (KBB).

Baca juga: Waspada Pola Asuh Overparenting, Ketika Orangtua Terlalu Mengatur Anak

“Di sana kami sama-sama menstimulasi tumbuh kembang anak. Misalkan anak ingin bermain apa, fasilitator sudah menyiapkan jenis-jenis permainannya,” jelasnya.

Kemudian, ada juga interaksi kelompok tematik, yakni membagikan materi dan modul tentang tema-tema tertentu.

“Misalnya, tentang air susu ibu (ASI) eksklusif, kami mengumpulkan orangtua di layanan tematik lalu berbagi modul tentang ASI eksklusif. Di sana kami memberikan pemahaman dengan mengumpulkan orangtua untuk hadir ke kelas,” jelasnya.

Ade memaparkan, layanan yang diberikan Rumah Anak SIGAP adalah KBB, layanan tematik, konsultasi individu, hingga kunjungan rumah.

Dia mencontohkan, ketika orangtua memiliki masalah dengan anaknya, mereka menanyakan kepada fasilitator melalui grup WhatsApp atau bertemu secara langsung.

“Ketika fasilitator dan koordinator mampu menjawab, insya Allah kami jawab. Ketika itu di luar kapasitas kami, misalnya tentang gizi, nanti kami tanyakan kepada ahlinya di puskesmas,” jelasnya.

Baca juga: Pentingnya Pola Asuh Mindful Parenting, Orangtua Wajib Tahu

Ade mengatakan, konsultasi tersebut sering terjadi karena pihaknya menangani lebih dari 24 orangtua dan anak.

“Setiap hari kan ada aja perubahan yang perlu diketahui orangtua. Misal, ‘kok anak saya usia segini giginya belum tumbuh, ya, gimana cara merangsangnya?’, itu ada aja tiap hari,” ujarnya.

Sementara itu, orangtua penerima manfaat Rumah Anak SIGAP bernama Hilda Yuniarti menuturkan, kelas tematik sangat membantu karena dia mendapatkan materi sehingga bisa menerapkannya di rumah.

Secara keseluruhan, Hilda mengaku terbantu dengan adanya layanan yang diberikan Rumah Anak SIGAP, seperti mengasuh anak yang baik, pengetahuan tentang gizi dan nutrisi untuk anak, hingga mengetahui perkembangan anak.

“Sebelumnya saya nggak tahu pola asuh anak yang baik bagaimana. Setelah ikut kelas ini pengetahuan saya bertambah, seperti menstimulasi anak atau memberi makan kepada anak sesuai usia yang baik bagimana,” ujarnya.

Baca juga: Studi: Anak Butuh Pola Asuh Konsisten demi Perkembangan Otaknya

Hilda mengakui, sebagai ibu muda, banyak hal yang dipelajarinya selama mengikuti program Rumah Anak SIGAP. Salah satunya cara mengatasi anak ketika menangis atau emosi.

“Dikasih tahu kalau emosi ibu harus diturunkan untuk perkembangan anak ke depan. Jadi bisa lebih sabar dalam mengurus anak. Ini juga kan untuk mental, kesehatan, tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Dia menyebutkan, sejak mengikutsertakan anaknya yang berusia 1 tahun dalam Rumah Anak SIGAP, sang anak lebih aktif dalam bersosialisasi dengan lingkungan dan bersemangat ketika bersekolah.

Hilda pun berharap ke depannya akan ada lebih banyak Rumah Anak SIGAP untuk membantu para orangtua di Indonesia. Bantuan dari fasilitator akan sangat membantu orangtua dalam mengasuh putra-putri mereka. 

“Mengurus anak itu penting. Yang saya tahu, dulu kan ‘itu nggak boleh, ini nggak boleh’. Ternyata kata ‘tidak’ itu bisa memutus stimulasi perkembangan anak. Kayak si anak lebih murung, kena bentak langsung ciut, nggak punya kepercayaan diri,” ujarnya.

Baca juga: Cara Terapkan Screamfree Parenting, Pola Asuh Tanpa Membentak Anak

Pola pengasuhan positif dari orangtua ini sejalan dengan peran para ibu di Indonesia. Pasalnya, ibu merupakan sosok yang sering berinteraksi dengan anak dalam keluarga. 

Para ibu berperan besar dalam perkembangan anak, dimulai dari masa kelahiran anak hingga ketika mereka beranjak remaja.

Sosok ibu turut berperan serta dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan emosional anak. Oleh karenanya, positive parenting akan sangat baik diterapkan guna mewujudkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

PenulisInang Jalaludin Shofihara
EditorAmalia Purnama Sari
Terkini Lainnya
Berperan Turunkan Stunting, TPK Paparkan Kendala Penanganan Stunting di Indonesia
Berperan Turunkan Stunting, TPK Paparkan Kendala Penanganan Stunting di Indonesia
Tanoto Foundation
Ibu Punya Peran Penting dalam Mencegah Stunting
Ibu Punya Peran Penting dalam Mencegah Stunting
Tanoto Foundation
Pemprov DKI Jakarta Optimalkan Layanan Digital untuk Cegah Stunting
Pemprov DKI Jakarta Optimalkan Layanan Digital untuk Cegah Stunting
Tanoto Foundation
Gandeng UNICEF Indonesia, Tanoto Foundation Gelontorkan Rp 33,5 Miliar untuk Turunkan Stunting
Gandeng UNICEF Indonesia, Tanoto Foundation Gelontorkan Rp 33,5 Miliar untuk Turunkan Stunting
Tanoto Foundation
BKKBN Gandeng Tanoto Foundation dan Mitra Lain untuk Bantu Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia
BKKBN Gandeng Tanoto Foundation dan Mitra Lain untuk Bantu Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia
Tanoto Foundation
Webinar Generasi Bebas Stunting: Manajemen Data Kunci Kebijakan Penurunan Stunting
Webinar Generasi Bebas Stunting: Manajemen Data Kunci Kebijakan Penurunan Stunting
Tanoto Foundation
Targetkan Stunting Turun 12 Persen pada 2026, Pemprov Sulut Fokus di 15 Kabupaten/Kota
Targetkan Stunting Turun 12 Persen pada 2026, Pemprov Sulut Fokus di 15 Kabupaten/Kota
Tanoto Foundation
7 Cara Kenalkan Literasi kepada Anak Usia Dini Sesuai Tahap Perkembangan
7 Cara Kenalkan Literasi kepada Anak Usia Dini Sesuai Tahap Perkembangan
Tanoto Foundation
Tekan Stunting, Kemensos dan Tanoto Foundation Latih 14.621 Pendamping Sosial PKH
Tekan Stunting, Kemensos dan Tanoto Foundation Latih 14.621 Pendamping Sosial PKH
Tanoto Foundation
Rumah Anak SIGAP Bantu Penurunan Stunting di Jateng, Ganjar Beri Apresiasi untuk Tanoto Foundation
Rumah Anak SIGAP Bantu Penurunan Stunting di Jateng, Ganjar Beri Apresiasi untuk Tanoto Foundation
Tanoto Foundation
Dukung Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia, Tanoto Foundation Gelar Webinar Nasional
Dukung Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia, Tanoto Foundation Gelar Webinar Nasional
Tanoto Foundation
Bolehkah Calistung Jadi Syarat Masuk SD? Dosen Ini Berikan Penjelasan
Bolehkah Calistung Jadi Syarat Masuk SD? Dosen Ini Berikan Penjelasan
Tanoto Foundation
Tekan Masalah Stunting di Indonesia, Bank Dunia Didukung Berbagai Lembaga Luncurkan Buku
Tekan Masalah Stunting di Indonesia, Bank Dunia Didukung Berbagai Lembaga Luncurkan Buku
Tanoto Foundation
Sering Beda Opini? Berikut Tips Kompak Mengasuh Anak dengan Kakek-Nenek
Sering Beda Opini? Berikut Tips Kompak Mengasuh Anak dengan Kakek-Nenek
Tanoto Foundation