7 Cara Kenalkan Literasi kepada Anak Usia Dini Sesuai Tahap Perkembangan

Inang Jalaludin Shofihara
Kompas.com - Kamis, 8 September 2022
Ilustrasi orangtua sedang membacakan buku kepada anak.DOK. Humas Tanoto Foundation Ilustrasi orangtua sedang membacakan buku kepada anak.

KOMPAS.com – Indonesia baru saja memperingati Hari Kemerdekaan ke-77. Namun, permasalahan literasi di Tanah Air masih menjadi hal yang memprihatinkan.

Berdasarkan skor Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), tingkat literasi masyarakat Indonesia menempati peringkat ke-62 dari total 70 negara.

Itu berarti Indonesia masuk dalam daftar 10 negara terbawah dengan tingkat literasi rendah di dunia.

Minat baca masyarakat Indonesia masih terbilang sangat rendah. Hal ini disebabkan beberapa hal, seperti terbatasnya bahan bacaan, kurangnya praktik literasi, dan rendahnya kesadaran para orangtua mengenai pentingnya mengembangkan kecintaan membaca pada anak sejak dini.

Padahal, kapasitas otak anak berkembang secara maksimal dalam aspek intelektual, emosi, dan sosial pada lima tahun perkembangan kehidupan mereka.

Baca juga: Orangtua, Ini Manfaat Membacakan Cerita kepada Anak Sejak Dini

Layaknya spons, selama periode tersebut anak belajar dan menyerap segala informasi secara cepat.

Senior Early Childhood Education and Development (ECED) Specialist Tanoto Foundation Fitriana Herarti menjelaskan, kunci memupuk minat membaca kepada anak usia dini perlu melalui cara yang menyenangkan.

Menurutnya, penting bagi anak-anak untuk melihat dan membaca sebagai sesuatu mengasyikkan, bukan bacaan atau tugas berat seperti pekerjaan rumah (PR).

“Jika orangtua menggunakan cara yang intens dan disiplin ketat untuk mengenalkan anak pada membaca, maka metode tersebut kurang tepat. Anak akan frustasi dan merasa terpaksa. Kondisi (ini) malah akan mengganggu perkembangan mereka,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (7/9/2022). 

Oleh karenanya, orangtua harus paham bagaimana mengenalkan literasi kepada anak agar mereka bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang gemar membaca.

Baca juga: Benarkah Perempuan Lebih Piawai Mengurus Anak Ketimbang Laki-laki?

Melansir laman Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), berikut tujuh hal yang perlu diperhatikan orangtua dalam mengajarkan literasi kepada anak usia dini sesuai dengan tahapan perkembangan usia mereka.

1. Belajar dengan bermain

Fitriana menjelaskan, bermain adalah belajar. Semua anak suka bermain. Namun, bukan berarti dalam proses bermain tersebut mereka tidak bisa belajar.

“Bermain dan belajar merupakan hal penting pada kehidupan anak. Jadi menyatukan dua kegiatan ini akan memberikan dampak optimal pada anak. Misalnya saat belajar mengenai literasi, anak dapat mulai bermain dengan balok berbentuk huruf,” tuturnya.

2. Bacakan buku cerita

Orangtua dapat membuat aktivitas membaca buku sebagai rutinitas harian yang menyenangkan, seperti membacakan buku kepada anak sebelum tidur.

Baca juga: 4 Cara Menstimulasi Kebiasaan Hidup Sehat pada Anak

Interaksi tersebut dapat memperkuat hubungan antara orangtua dan anak serta meningkatkan kemungkinan anak tumbuh dengan rasa aman dan bahagia.

Usai membacakan cerita, ajaklah anak berdiskusi mengenai cerita yang baru saja didengarnya.

3. Topik buku sesuai

Untuk memudahkan anak memahami isi buku cerita, pilihlah topik yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari anak.

Sebagai contoh, orangtua bisa memilih buku cerita dengan tema buah dan sayuran jika tinggal di daerah yang banyak perkebunan.

4. Perhatikan minat dan hobi anak

Belajar untuk mencintai literasi dapat juga digabungkan dengan melakukan kegiatan yang menjadi minat anak. Hal ini dapat membantu anak untuk mengembangkan bakat dan belajar sembari bermain.

Baca juga: Pentingnya Pola Asuh Responsif bagi Anak, Orangtua Wajib Tahu

5. Ajarkan keterampilan berpikir kritis

Ketika anak mulai beranjak dewasa, saatnya orangtua mengajak anak bercerita secara bergantian.

Lontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai cerita yang sedang dibaca seperti “Kenapa si Kancil melakukan hal itu, ya?” atau “Ceritanya seru! Kira-kira setelah ini apakah si Rusa akan lari?”.

6. Sesuaikan media baca sesuai usia

Untuk anak di bawah usia tiga tahun, usahakan memilih bahan bacaan yang lebih banyak memuat gambar dengan kalimat-kalimat pendek yang mudah dipahami anak.

Baca juga: Sering Beda Opini? Berikut Tips Kompak Mengasuh Anak dengan Kakek-Nenek

Untuk anak di atas tiga tahun, mulai bisa diperkenalkan bahan cerita dengan narasi kalimat yang lebih panjang.

7. Sesuaikan dengan kegiatan anak

Anak perlu belajar sesuai dengan rentang waktu konsentrasi, termasuk dalam kegiatan belajar literasi. Bagi anak di bawah tiga tahun, durasi cukup sekitar 5-10 menit, lalu anak di atas tiga tahun bisa sedikit lebih lama.

Selain itu, belajar literasi lebih efektif dengan durasi yang tidak lama tetapi sering dilakukan, daripada dengan waktu yang lama tetapi jarang dilakukan.

Perlu diketahui, Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap 8 September juga bisa menjadi penyemangat untuk terus mendukung dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak usia dini.

Baca juga: Rumah Anak SIGAP Bantu Penurunan Stunting di Jateng, Ganjar Beri Apresiasi untuk Tanoto Foundation

PenulisInang Jalaludin Shofihara
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
BKKBN Gandeng Tanoto Foundation dan Mitra Lain untuk Bantu Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia
BKKBN Gandeng Tanoto Foundation dan Mitra Lain untuk Bantu Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia
Tanoto Foundation
Webinar Generasi Bebas Stunting: Manajemen Data Kunci Kebijakan Penurunan Stunting
Webinar Generasi Bebas Stunting: Manajemen Data Kunci Kebijakan Penurunan Stunting
Tanoto Foundation
Targetkan Stunting Turun 12 Persen pada 2026, Pemprov Sulut Fokus di 15 Kabupaten/Kota
Targetkan Stunting Turun 12 Persen pada 2026, Pemprov Sulut Fokus di 15 Kabupaten/Kota
Tanoto Foundation
Tekan Stunting, Kemensos dan Tanoto Foundation Latih 14.621 Pendamping Sosial PKH
Tekan Stunting, Kemensos dan Tanoto Foundation Latih 14.621 Pendamping Sosial PKH
Tanoto Foundation
Rumah Anak SIGAP Bantu Penurunan Stunting di Jateng, Ganjar Beri Apresiasi untuk Tanoto Foundation
Rumah Anak SIGAP Bantu Penurunan Stunting di Jateng, Ganjar Beri Apresiasi untuk Tanoto Foundation
Tanoto Foundation
Dukung Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia, Tanoto Foundation Gelar Webinar Nasional
Dukung Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia, Tanoto Foundation Gelar Webinar Nasional
Tanoto Foundation
Bolehkah Calistung Jadi Syarat Masuk SD? Dosen Ini Berikan Penjelasan
Bolehkah Calistung Jadi Syarat Masuk SD? Dosen Ini Berikan Penjelasan
Tanoto Foundation
Tekan Masalah Stunting di Indonesia, Bank Dunia Didukung Berbagai Lembaga Luncurkan Buku
Tekan Masalah Stunting di Indonesia, Bank Dunia Didukung Berbagai Lembaga Luncurkan Buku
Tanoto Foundation
Sering Beda Opini? Berikut Tips Kompak Mengasuh Anak dengan Kakek-Nenek
Sering Beda Opini? Berikut Tips Kompak Mengasuh Anak dengan Kakek-Nenek
Tanoto Foundation
Tanoto Foundation dan UNICEF Ingatkan Orangtua Pentingnya Vaksin bagi Anak
Tanoto Foundation dan UNICEF Ingatkan Orangtua Pentingnya Vaksin bagi Anak
Tanoto Foundation
Benarkah Perempuan Lebih Piawai Mengurus Anak Ketimbang Laki-laki?
Benarkah Perempuan Lebih Piawai Mengurus Anak Ketimbang Laki-laki?
Tanoto Foundation
Pentingnya Pola Asuh Responsif bagi Anak, Orangtua Wajib Tahu
Pentingnya Pola Asuh Responsif bagi Anak, Orangtua Wajib Tahu
Tanoto Foundation
Tanoto Foundation Libatkan Masyarakat untuk Cari Solusi Masalah Stunting di Indonesia
Tanoto Foundation Libatkan Masyarakat untuk Cari Solusi Masalah Stunting di Indonesia
Tanoto Foundation
5 Karya Penelitian Mahasiswa Pemenang Ajang TSRA 2021, Ada Alat Deteksi Covid-19
5 Karya Penelitian Mahasiswa Pemenang Ajang TSRA 2021, Ada Alat Deteksi Covid-19
Tanoto Foundation